ANTIHISTAMIN

Antihistamin
Antihistamin merupakan jenis obat yang dapat dipakai untuk mengatasi berbagai macam jenis alergi. Misalnya, alergi pada makanan, serbuk sari serta serangga, alergi kulit, alergi mata dan lainnya. Obat ini hanya bisa mengurangi reaksi yang ditimbulkan oleh alergi. Antihistamin tidak dapat membebaskan Anda dari jeratan alergi yang telah mendarah daging di tubuh.
Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Sebenarnya zat histamin berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh.

Jenis-jenis Antihistamin
Ada dua jenis antihistamin, yaitu antihistamin generasi pertama dan generasi kedua.
o   Antihistamin generasi pertama, jenis ini memiliki efek menenangkan. Ketika diminum, ada efek samping umum yang dirasakan seperti mengantuk, pusing, konstipasi, mulut kering, gangguan dalam berpikir, penglihatan buram dan sulit mengosongkan kandung kemih. yang dapat menyebabkan rasa kantuk setelah digunakan.
Contoh obat antihistamin generasi pertama adalah chlorphenamine, promethazine, ketotifen, alimemazine, cyproheptadine, hydroxyzine, dan clemastine.
o   Antihistamin generasi kedua tidak terlalu menimbulkan rasa kantuk. Jenis ini tidak memiliki efek penenang. Ketika diminum, efek mengantuk tidak akan sebesar obat generasi pertama. Antihistamin generasi kedua memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang generasi pertama. Efek sampingnya yaitu mulut kering, sakit kepala, hidung kering, dan merasa mual.
Contoh obat antihistamin generasi kedua adalah loratadine, fexofenadine, cetirizine, mizolastine, desloratadine, acrivastine, dan levocetirizine.
Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor H1, H2 dan H3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek antihistamin yang sudah terjadi. Antihistamin pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor khas.

Berdasarkan hambatan pada reseptor khas, antihistamin di bagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
1. Antagonis H1, di gunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi. Antagonis H1 sering pula disebut antihistamin klasik yaitu senyawa dalam keadaan rendah dapat menghambat secara bersaing kerja histamin pada jaringan yang mengandung resptor H1. Biasa digunakan untuk mengurangi gejala alergi karena cuaca misalnya bersin, gatal pada mata, hidung dan tenggorokan. Gejala pada alergi kulit, seperti urtikaria dermatitis pruritik dan ekzem.
2. Antagonis H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobatan penderita tukak lambung. Antagonis H2 merupakan senyawa yang menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor H2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung. Biasa digunakan untuk pengobatan tukak lambung dan usus. Efek samping antagonis H2 antara lain : diare, nyeri otot dan kegelisahan.
3. Antagonis H3, sampai sekarang belum digunakan untuk pengobatan, masih dalam penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan sistem kardiovaskular, pengobatan alergi, dan kelainan mental.

Penggolongan obat antihistamin menurut struktur kimia :
1. Derivat etanolamin
a. Difendihidramin memunyai daya anti kolinergis dan sedatif yang kuat juga bersifat spasmolitis, antiemetis dan antivertigo(antipusing).
a.a. orfenadrin memiliki daya antikolenergis dan sedtif yang ringan.
a.b. dimenhidrinat digunakan untuk mabuk jalan dan muntah karena hamil.
a.c. klorfenoksamin sebagai obat tambahan pada terapi penyakit parkinson.
b. klemastin memiliki efek antihistamin yang amat kuat mulai bekerja nya cepat (beberapa menit dan bertahan lebih dari 10 jam).
2. Derivat etilendiamin
a. Antazolin efek antihistaminnya tidak terlalu kuat tetapi tidak merangsang selaput lendir sehingga cocok digunakan pada pengobatan gejala-gejala alergis pada mata dan hidung.
a.a tripelenamin
digunakan sebagai krem pada gatal-gatal pada alergi terhadap sinar matahari, sengatan serangga dan lain-lain.
a.b Mepirin
derivat metoksi dari tripilennamin yang digunakan dalam kombinasi dengan feneramin dan fenilpropanolamin terhadap hypiper.
a.c Klemizol
adalah derivat –klor yang hanya digunakan pada salep atau suppositoria antiwasir.
3. Derivat provilamin
a. Feniramin
Memiliki daya kerja antihistamin dan meredakan efek batuk yang cukup baik.
a.a Klorfeneramin
adalah derivat klor dengan daya kerja 10x lebih kuat dan dengan derajat toksisitas yang sama.
a.b Deksklorfeneramin
Adalah bentuk dekltronya 2x lebih kuat dari pada bentuk trasemisnya.
a.c Tripolidin
Adalah derivat dengan rantai sisi pirolidin yang daya kerjanya agak kuat. Mulai kerjanya pesat dan bertahan lama sampai 24jam (tablet retard).
4. Derivat piperazin
a. Siklizin
Mulai kerja cepat dan bertahan 4-6 jam. Digunakan sebagai obat antiemetik dan pencegah mabuk jalan.
a.a Homoklorsiklizin
Adalah derivat klor yang bersifat antiserotonin dan digunakan pada pruritus allerigika (gatal-gatal).
b. Sinarizin
Berkhasiat antipusing dan antiemetis dan sering kali digunakan sebagai obat vertigo, telinga berdesing dan pada mabuk jalan. Mulai kerjanya agak cepat, bertahan selama 6-8 jam dengan efek sedatif ringan.
b.a Flunarizin
sebagai antagonis –kalsium, sifat vasorelaksasinya kuat. Digunakn terhadap vertigo dan sebagai obat pencegah migrain.
c. Oksatomida
Memiliki daya kerja antihistamin, antiserotonin, antileokotrien. Memiliki efek menstabilisasi mast cells, stimulasi nafsu makan.
d. Hidroksizin
Sebagai sedatif dan anksiolitis, vasmolitis serta antikolinergis. Sangat efektif pada urtikaria dan gatal-gatal.
d.a Cetirizin
Menghambat migrasi dari granulosit euosinofil, yang berperan pada reaksi alergi lambat. Digunakan pada urticaria dan rinitis atau konjungtivis.
5. Derivat fenotiazin
a. Prometazin
Digunakan pada vertigo dan sebagai sedativum pada batuk dan sukar tidur, terutama untuk anak-anak.
a.a Oksomemazin
Digunakan untuk obat batuk. Daya kerja dan penggunaan sama seperti prometazin.
b. Isotifendil
Bekerja lebih singkat dari prometazin dengan efek sedatif yang lebih ringan.
6. Derivat trisiklis lainnya
a. Sifroheptadin
Lama kerjanya 4-6 jam, daya antikolinergisnya ringan. Untuk pasien yang nafsu makan kurang dan kurus.
b. Pizotifen
Berkhasiat antihistamin dan antiseroton. Sebagi stimulan nafsu makan, terapi interval migrain dan obat-obat migrain.
b.a Ketotifen
obat ini digunakan sebagi obat pencegah serangan asam.
b.b Kloratadin
Digunakan pada rhinitis dan konjungtivitis alergis juga pada urtikaria kronis.
c. Azelastin
Berdaya antihistamin, antileukotrien dan antiserotonin juga menstanilisir mast cells.


pertanyaan :
1. apakah obat antihistamin berinteraksi dengan obat lain.
2. apa yang dimaksud dengan reseptor H1, H2, H3.
3. jenis antihistamin mana yang baik.
4. apakah boleh obat antihistamin di kombinasikan dengan obat lain.
5. bagaimana peringatan dan dosis untuk antihistamin.
6. apakah obat antihistamin aman jika di konsumsi oleh penderita tekanan darah tinggi.
7. kapan waktu yang tepat untuk berhenti mengkonsumsi antihistamin.

Komentar

  1. untuk peringatan antihistamin :
    Antihistamin yang menyebabkan kantuk mempunyai aktivitas antimuskarinik yang nyata dan harus digunakan dengan hati-hati pada hipertrofi prostat, retensi urin, pasien dengan risiko galukoma sudut sempit, obstruksi pyloroduodenal, penyakit hati dan epilepsi. Dosis mungkin perlu diturunkan pada gangguan ginjal. Anak dan lansia lebih mudah mendapat efek samping. Penggunaan pada anak di bawah 2 tahun tidak dianjurkan kecuali atas petunjuk dokter dan tidak boleh digunakan pada neonatus. Banyak antihistamin harus dihindari pada porfiria, meskipun beberapa (misalnya klorfenamin dan setirizin) diperkirakan aman.

    BalasHapus
  2. Pengkonsumsian antihistamin dapat diberhentikan apabila pasien sudah merasa kembali ke kondisi normal dan sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan bang hengki, antihistamin dapat dihentikan pemakaian jika gejala alergi/peradangan pada penderita sudah hilang/sembuh. lagipula jika antihistamin masih dikonsumsi ketika gejala sudah hilang dapat menimbulkan efek samping yang lebih parah dari sebelumnya

      Hapus
    2. saya ingin menambahkan, sebaiknya penggunaan antihistamin harus sesuai dengan anjuran dari apoteker atau dokter yang meresepkan, sehingga pasien tau kapan penggunaan obat dapat dihentikan. karena kondisi tiap individu berbeda satu dengan yang lainnya

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pendapat semuanya, karena obat antihistamin dapat diberhentikan saat alerginya sudah sembuh karena jika di gunakan terus menerus takutnya efek samping dari obat tersebut terasa pda pasien dan juga bisa menyebabkan resistensi dimana pemakaian obatnya tetep harus di sesuaikan dosisnya

      Hapus
    4. Mengapa harus dihentikan? nah mari kita bahas efek samping dari penggunaan antihistamin ini, ternyata memang benar penyataan dari bang Hengki.. berikut penjelasannya :

      Jadi, setiap jenis obat biasanya akan selalu memiliki efek samping bagi tubuh penggunanya, tidak terkecuali pada jenis obat Cetirizine ini. Untuk efek samping Obat Cetirizine yang ringan ialah sebagai berikut:
      1.Mengantuk
      2.Pusing
      3.Sakit kepala
      4.Gelisah
      5.Kelelahan
      6.Sakit perut
      7.Mual-mual
      8.Diare
      9.Mulut kering
      10.Hingga sakit pada tenggorokan

      Namun jika obat Cetirizine ini digunakan dalam jangka panjang dan tidak menunjunkan peningkatan namun tetap digunakan. Maka inilah beberapa gejala yang akan terjadi dari efek samping Cetirizine jangka panjang :
      1.Reaksi alergi yang semakin buruk seperti pembengkakan pada wajah, lidah, leher, tenggorokan, hingga sulit untuk bernapas.
      2.Mengalami kejang-kejang.
      3Hingga memar pada bagian bawah jaringan/lapisan kulit yang disertai mudah terjadinya pendarahan.

      Jadi memang harus dihentikan ya...

      Hapus
  3. malam raras
    saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 interaksi dgn obat lain yaitu Antihistamin interaksi dgn Alkohol, depresan SSP : Menambah efek depresan SSP dan efek lebih kecil pada antihistamin generasi kedua dan ketiga.
    Antifungi Azole dan Antibiotik Makrolida :
    azithromycin, clarithromycin, erythromycin, fluconazole, itraconazole, ketoconazole, miconazole loratadine, desloratadine : Meningkatkan kadar plasma object drug
    phenelzine, isocarboxazid, tranylcypromine dengan Antihistamin generasi pertama Bisa memperlama dan memperkuat efek antikolinergik dan sedative antihistamin, sehingga bisa terjadi hipotensi dan efek samping ekstrapiramidal

    BalasHapus
  4. sayaa kan menjawab no 2 reseptor h1 ,h2, dan h3 adalah reseptor khas antihistamin yang mempunyai mekanime kerja yang berbeda beda
    Antagonis H1, di gunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi
    Antagonis H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobatan penderita tukak lambung. Antagonis H2 merupakan senyawa yang menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor H2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung
    Antagonis H3, sampai sekarang belum digunakan untuk pengobatan, masih dalam penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan sistem kardiovaskular, pengobatan alergi, dan kelainan mental.Terimakasih

    BalasHapus
  5. Hy raras saya akan menjawab pertanyaaan nmr 6. Penderita hipertensi dpt mengkonsumsi antihistamin generasi pertaman sbg alternatif untk dekongestan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ingin menambahkan jawaban dari debi. Alternatif lain untuk dekongestan bisa digunakan antihistamin generasi pertama. Antihistamin generasi pertama memiliki efek moderat pada pilek dan bersin, dan mata berair yang umum terjadi pada penderita common cold. Antihistamin memblok aksi histamine pada level reseptor, dapat digunakan untuk membantu mengurangi hidung meler pada pasien hipertensi yang tidak memiliki penyakit penyerta.

      Hapus
    2. salah satu obat generasi pertama yang dapat digunakan adalah ctm

      Hapus
  6. Hai raras
    Terkait pertanyaan no 4, obat antihistamin contohnya cetirizin boleh d kombinasikan dengan obat lain. Pada saat ini tidak ada interaksi dengan obat lain. Penelitian Diazepam dan Cetirizine tidak memperlihatkan interaksi. Seperti pemakaian antihistamin lainnya, disarankan untuktidak mengkonsumsi alkohol.
    Seperti banyak obat antihistamin lainnya, cetirizine yang umumnya diresepkan dalam kombinasi dengan pseudoefedrin hidroklorida, dekongestan.

    BalasHapus
  7. Terkait pertanyaan no 2
    -Reseptor H1
    Paling banyak berperan dalam alergi namun bisa juga vasodilatasi dan bronkokonstriksi (asma)
    Lokasi: Terdapat di otak, bronkus, gastrointestinal tract, genitourinary system, sistem kardiovaskuler, adrenal medula, sel endotelial
    -Reseptor H2
    Berlokasi di sel parietal lambung yang berperan dalam sekresi asam lambung
    -Reseptor H3
    Terdapat di sistem syaraf, mengatur produksi dan pelepasan histamin pada susunan saraf pusat.

    BalasHapus
  8. Pertanyaan no.1
    Antagonis H1
    1. Perpanjangan interval QT dan aritmia dapat terjadi bila terfenadin dan astemizol diberikan bersamaan dengan antijamur (ketokonazol, itrakonazol, flukonazol, dan mikonazol), atau antibiotika golongan makrolid (eritromisin dan klaritomisin).
    2. Efek sedasi antagonis H1 generasi I meningkat bila diberikan dengan obat yang menekan SSP, misalnya alkohol dan diazepam.
    Antagonis H2
    Karena penghambatan P450 di hati, simetidin dapat menghambat metabolisme beberapa obat, seperti teofilin, siklosporin, dan propanolol. Antagonis kalsium, sulfonilurea, warfarin, antidepresan trisiklik dan imipramid. Simetidin juga menghambat sekresi tubular prokainamid. Obat ini meningkatkan metabolisme etanol. Sementara itu, efek ranitidine kecil pada sitokrom P450 sehingga kejadian interaksi obat lebih rendah dibandingkan simetidin. Ranitidin dilaporkan menurunkan absorbsi diazepam, dan juga berinteraksi dengan nifedipin, warfarin, teofilin, dan metoprolol. Untuk famotidin, interaksi obat yang bermakna belum diketahui, sedangkan nizatidin diketahui menghambat dehidrogenase alkohol di mukosa lambung.

    DAFTAR PUSTAKA

    Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

    BalasHapus
  9. Saya akan menjawab pertanyaan no 6 menurut artikel yang saya baca untuk obat antihistamin Obat ini sering digunakan untuk mengatasi flu, hidung tersumbat, dan obat gatal karena alergi. Obat-obatan ini tidak boleh diminum oleh orang darah tinggi karena dapat meningkatkan tekanan darah dan berinteraksi dengan obat darah tinggi. Antihistamin contohnya, klorfeniramin (CTM), cetirizine, loratadin, dll. Sedangkan untuk dekongestan contohnya, efedrin, pseudoefedrin, fenilpropanolamin, dll. Obat-obatan ini sebaiknya tidak diminum oleh orang darah tinggi, kecuali dokter menyarankannya.
    Sumber: Hati-Hati! Orang Darah Tinggi Tidak Boleh Minum Obat Ini - Mediskus

    BalasHapus
  10. 1. salah satu contoh AH adalah ranitidin
    Penggunaan ranitidin dengan Vitamin B12 dapat mengakibatkan defisiensi vitamin B12 karena malabsorpsi vitamin B12

    BalasHapus
  11. 2.
    Reseptor H1
    Paling banyak berperan dalam alergi namun bisa juga vasodilatasi dan bronkokonstriksi (asma)
    Lokasi: Terdapat di otak, bronkus, gastrointestinal tract, genitourinary system, sistem kardiovaskuler, adrenal medula, sel endotelial

    Reseptor H2
    Berlokasi di sel parietal lambung yang berperan dalam sekresi asam lambung
    Cara kerjanya adalah dengan mengikat reseptor H2 pada membran sel parietal dan mencegah histamin menstimulasi sekresi asam lambung.

    Reseptor H3
    Terdapat di sistem syaraf, mengatur produksi dan pelepasan histamin pada susunan saraf pusat.
    Tidak seperti antagonis H1 yang menimbulkan efek sedatif, antagonis H3 menyebabkan efek stimulant dan nootropic dan sedang diteliti sebagai obat Alzheimer

    BalasHapus
  12. 3. menurut saya antihistamin yang baik adalah AH 2 dan AH3 yang lebih rendah efek samping

    BalasHapus
  13. 4. boleh, asalkan efek yang ditimbulkan sinergis, dan tidak adanya interaksi obat

    BalasHapus
  14. 5. Peringatan:

    Bagi wanita hamil atau sedang menyusui, sesuaikan jenis dan dosis antihistamin dengan anjuran dokter.
    Bagi anak-anak, penggunaan tiap-tiap jenis obat antihistamin berbeda-beda dan disesuaikan dengan usia.
    Harap berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal, gangguan hati, tukak lambung, obstruksi usus, infeksi saluran kemih, pembengkakan prostat, dan glaukoma.
    Apabila Anda diresepkan obat antihistamin golongan pertama, hindari mengonsumsi zat alkohol atau minuman beralkohol karena dapat memperparah efek rasa kantuk.
    Jangan menggunakan antihistamin bersamaan dengan obat-obatan lainnya termasuk produk herba tanpa petunjuk dari dokter karena dikhawatirkan dapat menyebabkan efek samping yang membahayakan (misalnya dosis yang berubah menjadi sangat tinggi apabila kita mengonsumsi salah satu jenis antihistamin berbarengan dengan dekongestan, parasetamol, atau jenis antihistamin lainnya).
    Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis saat menggunakan suatu jenis obat antihistamin, segera temui dokter.

    BalasHapus
  15. 7. Jika keluhan alergi sudah membaik seperti gatal yang sudah tidak terasa, bentol-bentol yang sudah menghilang, dll maka bisa menghentikan pemakaian obat antihistamin yang diberikan oleh dokter.

    BalasHapus
  16. 6. hindari penggunaan obat antihistamin tanpa resep dokter karena penggunaan obat antihistamin tidak dianjurkan pada penderita diabetes, asma, epilepsi, gangguan ginjal, penyakit jantung, penyakit hati dan tekanan darah tinggi.

    BalasHapus
  17. Saya akan menambahkan sedikit Antihistamin yang saat ini menjadi perhatian para klinisi dan lebih mulai dipertimbangkan dalam penggnaan klinis adalah Cetirizine yang merupakan antihistamin yang sangat kuat dan spesifik. Cetirizine merupakan antagonis reseptor histamin-1(H1) generasi kedua yang aman digunakan pada terapi alergi. Selain mempunyai efek antihistamin, cetirizine juga mempunyai efek antiinflamasi. Efek antiinflamasi cetirizine terutama ditunjukkan melalui penghambatan kemotaksis sel inflamasi. Efek antiinflamasi cetirizine juga tercapai melalui penghambatan ekspresi molekul adhesi yang berperan dalam proses penarikan sel inflamasi.Terimaksih

    BalasHapus
  18. saya akan mencb menjwab no 7waktu yg tpat berhenti ketika seorg tidk merasakan sakit lagi dan td membutuhkan obat tsbt

    BalasHapus
  19. Reseptor histamin
    Reseptor Histamin dan obatnya

    Pelepasan histamin selain menyebabkan reaksi alergi juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi (penyempitan saluran pernapasan), peningkatan asam lambung dll. Nah untuk tau pengobatannya, perlu diketahui juga reseptor yg bertanggung jawab.

    Mekanisme obat dalam mengobati alergi sebenarnya ada 2: Antagonis histamin dan inhibitor pelepasan histamin

    Antagonis histamin bekerja dengan menghambat kerja dari histamin melalui reseptor histamin. Jadi histamin udah terbentuk namun efek farmakologisnya dihambat (dibahas di bawah sesuai reseptornya)
    Inhibitor pelepasan histamin bekerja dengan menstabilkan mast cell misalnya cromoglycate sehingga histamin tidak terbentuk. Atau dengan nedocromil yang bekerja dengan menghambat degranulasi dari mast cell.
    1. Reseptor H1

    Paling banyak berperan dalam alergi namun bisa juga vasodilatasi dan bronkokonstriksi (asma)

    Lokasi: Terdapat di otak, bronkus, gastrointestinal tract, genitourinary system, sistem kardiovaskuler, adrenal medula, sel endotelial

    Obat antagonis H1

    Obat anti histamin H1 biasanya berkompetisi (bersifat kompetitif) dengan histamin untuk mengikat reseptor, untuk meringankan reaksi alergi seperti rhinitis dan urtikaria.

    Generasi 1 : cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-2 jam dengan durasi 4-6 jam. Efek sedatif masih tinggi
    contoh: CTM, bromfeniram, prometazin, dimenhidrinat (bisa untuk obat mabuk jg)

    Generasi 2: cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-3 jam, dengan durasi bervariasi dari 4-24 jam. Efek sedatif minimal
    contoh: fexofenadin, loratadin, astemizol, cetirizin

    Generasi 3: merupakan pengembangan dari generasi 2. Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memperoleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal.
    contoh: desloratadin dan levocetirizin

    Semakin tinggi generasinya durasi aksinya makin panjang dengan efek sedatif (ngantuk) semakin minimal

    Efek samping obat antagonis H1 selain sedatif (menimbulkan ngantuk) juga atropine-like reactions contohnya mulut kering dan konstipasi.

    2. Reseptor H2

    Berlokasi di sel parietal lambung yang berperan dalam sekresi asam lambung


    Cara kerjanya adalah dengan mengikat reseptor H2 pada membran sel parietal dan mencegah histamin menstimulasi sekresi asam lambung.

    Obat antagonis H2: cimetidine, ranitidine, famotidine

    3. Reseptor H3

    Terdapat di sistem syaraf, mengatur produksi dan pelepasan histamin pada susunan saraf pusat.

    Tidak seperti antagonis H1 yang menimbulkan efek sedatif, antagonis H3 menyebabkan efek stimulant dan nootropic dan sedang diteliti sebagai obat Alzheimer

    Obat: Imetit, Immepip, clobenpropit, lodoproxyfan

    BalasHapus
  20. Saya akan mencoba menjawab prtnyaan nomr 7 kapan harus brhenti yaitu jika obat yg di resepkan dokter sudah habis atau jika sdah merasa alergi hilang hentikan pemakaian .

    BalasHapus
  21. Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 3, menurut saya jenis antihistamin yang baik itu sesuai dengan penyakit yang diderita dan sebaiknya jika baru mengonsumsi antihistamin sebaiknya gunakan yang dosisnya rendah dulu jika tidak ada perubahan baru diganti ke dosis yang lebih tinggi dan lebih baiknya lagi konsultasi kan ke dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya akan menambahkan jawaban no 3

      jenis antihistamin mana yang terbaik? Semua jenis antihistamin dapat mengatasi reaksi alergi dengan baik asal sesuai dengan alergi yang Anda alami. Sebagai contoh, jika Anda mengalami alergi gatal-gatal pada kulit, Anda bisa mengonsumsi antihistamin generasi pertama. Efek mengantuk dari generasi ini bisa dimanfaatkan untuk membuat Anda tidur pulas walau kondisi kulit sedang gatal.

      Hapus
  22. Saya akan membantu menjawab pertanyaan no 3, menurut saya jenis antihistamin yang baik itu sesuai dengan penyakit yang diderita dan sebaiknya jika baru mengonsumsi antihistamin sebaiknya gunakan yang dosisnya rendah dulu jika tidak ada perubahan baru diganti ke dosis yang lebih tinggi dan lebih baiknya lagi konsultasi kan ke dokter

    BalasHapus
  23. No.7, sebaiknya penggunaan antihistamin segera dihentikan jika penyakit telah sembuh atau membaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya setuju dengan nadya, karena penggunaan antihistamin harus diberhentikan jika kondisi telah membaik

      Hapus
    2. iya benar, hentikan pemakaian apabila obat yang di sepekan dokter telah habis dan kondisi si penderita telah membaik,tentunya harus dikonsultasikan dulu ke dokternya.

      Hapus
  24. untuk jawaban nomor 2.
    h1 dapat digunakan untuk penyakit alerge
    h2 dapat digunakan untuk mengurangi asam lambung
    h3 dapat digunakan untuk kardiovaskuler dan kelainan mental

    BalasHapus
  25. no 5
    dosis:
    Dewasa: 3 – 4 kali sehari 0.5 – 1 tablet.
    Anak-anak 6 – 12 tahun: 0.5 dosis dewasa.
    Anak-anak 1 – 6 tahun: 0.25 dosis dewasa.
    Per oral: 4 mg tiap 4-6 jam; maksimal 24 mg/hari.

    peringatan:

    Bagi wanita hamil atau sedang menyusui, sesuaikan jenis dan dosis antihistamin dengan anjuran dokter.
    Bagi anak-anak, penggunaan tiap-tiap jenis obat antihistamin berbeda-beda dan disesuaikan dengan usia.
    Harap berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal, gangguan hati, tukak lambung, obstruksi usus, infeksi saluran kemih, pembengkakan prostat, dan glaukoma.
    Apabila Anda diresepkan obat antihistamin golongan pertama, hindari mengonsumsi zat alkohol atau minuman beralkohol karena dapat memperparah efek rasa kantuk.
    Jangan menggunakan antihistamin bersamaan dengan obat-obatan lainnya termasuk produk herba tanpa petunjuk dari dokter karena dikhawatirkan dapat menyebabkan efek samping yang membahayakan (misalnya dosis yang berubah menjadi sangat tinggi apabila kita mengonsumsi salah satu jenis antihistamin berbarengan dengan dekongestan, parasetamol, atau jenis antihistamin lainnya).
    Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis saat menggunakan suatu jenis obat antihistamin, segera temui dokter.

    BalasHapus
  26. Pertanyaan no 2
    reseptor h1 ,h2, dan h3 adalah reseptor khas antihistamin yang mempunyai mekanime kerja yang berbeda beda
    Antagonis H1, di gunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi
    Antagonis H2 digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobatan penderita tukak lambung. Antagonis H2 merupakan senyawa yang menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor H2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung
    Antagonis H3, sampai sekarang belum digunakan untuk pengobatan, masih dalam penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan sistem kardiovaskular, pengobatan alergi, dan kelainan mental

    BalasHapus
  27. no 3.
    antihistamin semuanya baik, tergantung dari efek terapi yang kita ingin kan, misalnya untuk menghilangkan alergi sebaiknya gunakan AH1 sedangkan untuk AH2 bisa digunakan sebai obat ulcer

    BalasHapus
  28. Penggunaan antihistamin dpt dikombinasi dgn obat lainnya seperti pct, tentunya harus konsultasi trlebih dhulu dgn dokter

    BalasHapus
  29. 1. Jika Anda mengonsumsi obat lain atau produk toko pada waktu bersamaan, efek dari Ctm dapat berubah. Ini dapat meningkatkan resiko Anda untuk efek samping atau menyebabkan obat Anda tidak bekerja dengan baik. Katakan pada dokter Anda tentang semua obat, vitamin, dan suplemen herbal yang Anda gunakan, sehingga dokter Anda dapat membantu Anda mencegah atau mengatur interaksi obat. Ctm dapat berinteraksi dengan obat dan produk berikut ini:
    Amphotericin B
    Flucytosine
    Nystatin

    BalasHapus
  30. saya akan mencoba menjawab soal no.7
    Antihistamin dapat dihentikan pemakaian jika gejala alergi/peradangan pada penderita sudah sembuh. Jika di gunakan terus menerus takutnya efek samping dari obat tersebut terasa pda pasien. Sebaiknya penggunaan antihistamin harus sesuai dengan anjuran dari apoteker atau dokter yang meresepkan, sehingga pasien tau kapan penggunaan obat dapat dihentikan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

FENOTIAZIN